Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM Juni 2018
20 Jul 2018

Kondisi Atmosfer Pada Bulan  Mei-Juni 2018

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Bulan Juni 2018, pengaruh monsun Australia di selatan Indonesia cenderung melemah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, hal ini terlihat dari melemahnya kecepatan angin di wilayah selatan Indonesia pada bulan Juni 2018 (Gambar 1). Sebaliknya, wilayah utara Indonesia cenderung menunjukkan pengaruh monsun Australia yang menguat. Pada Gambar 1 dapat dilihat meskipun mengalami penurunan kecepatan angina dari bulan sebelumnya, wilayah Indonsia bagian Selatan (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) tetap memiliki kecepatan angin timuran yang lebih tinggi dibanding wilayah Indonesia lainnya.

Dibandingkan denganMei 2018, penurunan SST hampir terjadi di seluruh perairan Indonesia pada bulan Juni 2018 dengan SST wilayah utara yang lebih tinggi dibanding wilayah selatan. Pada Gambar 1 tampak nilai SST  berkisar 25-270C untuk wilayah Indonesia Selatan, 27-290C untuk wilayah ekuator, dan 29-300C untuk wilayah Indonesia Utara.

Data OLR Bulan Juni 2018 menunjukkan adanya pengurangan awan konvektif di atas Indonesia, terutama di Perairan Selatan Jawa, yang ditunjukkan dengan tingginya nilai OLR mencapai 280 W/m2. Pada Gambar 1, pengurangan awan konvektif juga jelas terlihat di wilayah Utara Sumatra dan Kalimantan.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Mei dan Juni 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Beberapa parameter atmosfer seperti angin permukaaan, SST dan OLR sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, cukup signifikan memengaruhi curah hujan bulan Juni 2018 (Gambar 2). Curah hujan bulan Juni 2018 tampak lebih rendah dari bulan sebelumnya hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di atas perairan teluk cendrawasih terlihat curah hujan masih cukup tinggi. Hal ini cukup menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Salah satu penyebab kondisi tersebut adalah aktifnya monsun Australia dengan pergerakan angin timuran yang terlihat di wilayah Indonesia.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Mei dan Juni 2018 berdasarkan data GSMaP.

Sementara itu data CPC  menggambarkan kecenderungan kondisi ENSO netral selama Bulan Juni 2018.  Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 sebesar 0.2oC.  Menurut IRI, secara keseluruhan berdasarkan  kondisi atmosfer dan lautan, hasil prediksi ENSO menunjukkan bahwa kondisi ENSO netral hinga periode Juli-Agustus-September (JAS) dengan probabilitas ENSO netral lebih dari 50%. Anomali SST di Nino 3.4 diperkirakan cenderung terus meningkat dan berpotensi terjadi El Nino dengan probabilitas lebih besar dari 50% mulai musim Agustus-September-Oktober (ASO) 2018 hingga Januari-Fenruari-Maret (JFM) 2019 dengan probabilitas sekitar 65%. 

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Juni 2018 tergolong netral berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia. Nilai indeks IOD pada minggu pertama dan kedua Juni 2018 bernilai -0.50C, kemudian terus mendekati nilai nol pada mingu ketiga hingga minggu keempat  dengan rata-rata indeks IOD sebesar -0.44 0C. Diprediksi kondisi IOD tetap dalam kondisi netral untuk 9 bulan selanjutnya dengan kemungkinan kejadian lebih dari 80%.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Juni 2018

Selama bulan Juni 2018, MJO bergerak dari Benua Maritim Indonesia. Pertengahan dasarian I MJO mulai menguat saat memasuki Samudera Pasifik bagian Barat. MJO mulai melemah pada dasarian 2 dan menguat kembali pada dasarian 3 Juni 2018 saat memasuki Samudera Hindia. Memasuki Juli 2018, CPC memprediksi MJO terus melemah, dan akan menguat kembali pada dasarian kedua Juli 2018.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Juni 2018.

Distribusi curah hujan bulan Mei 2018 untuk wilayah Indonesia pada dasarian I terlihat lebih kecil dibanding dasarian II dan III. Pada dasarian I, curah hujan rendah hampir merata di seluruh wilayah Indonesia, namun terlihat curah hujan tinggi di Utara Indonesia. Hal ini diperkirakan terjadi terkait dengan aktivitas monsun Australia yang tetap konsisten membawa pengaruh kering terhadap Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia bagian selatan. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat keawanan di Indonesia pada dasarian I yang terlihat pada Gambar 3.

Pada dasarian II terlihat adanya peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia seperti di wilayah ekuator dan perairan barat Sumatra. Hal ini diperkirakan akibat adanya sedikit penurunan indeks IOD pada awal dasarian kedua.

Adanya peningkatan awan konvektif pada dasarian III diperkirakan karena adanya aktivias MJO yang menguat di atas Samudera Hindia pada akhir dasarian ketiga sehingga menyebabkan curah hujan lebih tinggi dibanding dasarian I dan II, terutama di wilayah ekuator (perairan barat Sumatra, barat Kalimantan, Sulawesi, dan Papua)

Hasil prediksi CPC yang menyatakan MJO melemah pada awal bulan Juli 2018 diperkirakan akan menurunkan kembali curah hujan di wilayah Indonesia pada awal Juli 2018.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Juli 2018 sampai Febuari 2019 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Juli 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4. Terlihat adanya peningkatan curah hujan di wilayah selatan Indonesia (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) mulai Bulan Agustus 2018 setelah sebelumnya mengalami puncak musim kering pada Juli 2018. Selain wilayah selatan Indonesia, Wilayah Sumatra bagian Utara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua juga mengalami peningkatan curah hujan pada bulan Agustus hingga September.

Memasuki bulan Oktober 2018, curah hujan di wilayah ekuator diprediksi mengalami penurunan hingga Januari 2019. Kondisi sebaliknya justru ditunjukkaan oleh wilayah Indonesia selatan yang mengalami peningkatan curah hujan mulai Oktober 2018 hingga Februari 2019.

Analisis pergerakan angin pada Gambar 4 menunjukkan bahwa aktivitas monsun Australia mulai melemah pada bulan September 2018, dan mulai memasuki masa transisi dari monsun Australia ke monsun Asia pada Oktober 2018 yang ditandai dengan mulai berubahnya arah angin global di wilayah Utara Indonesia. Seiring dengan konsistennya monsun Asia yang mempunyai sifat lembab, diperkirakan puncak musim hujan di Pulau Jawa akan terjadi pada bulan Februari 2018, berbanding terbalik dengan bagian utara ekuator yang mengalami penurunan curah hujan seiring konsistennya monsun Asia.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Juli 2018 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_emn) yang dikeluarkan pada tanggal 30 Juni 2018.

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terjadi curah hujan lebih dari 50 mm pada 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan  <50 mm. Pada kesempatan ini, meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan analisis probabilitas curah hujan > 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim di Indonesia.

Gambar 5 menunjukkan probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata dari POAMA. Dari Gambar 5 tersebut tampak bahwa pada bulan Juli 2018 diprediksi sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi kering yang relatif lebih luas dibanding bulan sebelumnya (lihat laporan variabilitas iklim bulan Mei 2018 subbagian Prediksi curah hujan untuk beberapa bulan di Indonesia).  Hampir seluruh Pulau Kalimantan memiliki probabilitas curah hujan > 5 mm/hari kurang dari 30% pada Bulan Juli 2018, dan berangsur meningkat hingga mencapai puncaknya pada Desember 2018 (probabilitas  curah hujan >5 mm/hari sekitar 90%). 

Prediksi POAMA Bulan Juli 2018 untuk  Pulau Jawa , Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan mengalami kondisi kering yang terus berlanjut dan mencapai puncak kering pada Oktober 2018. Probabailitas curah hujan >5 mm/hari berangsur meningkat mulai dari Agustus hingga puncaknya Desember untuk hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali wilayah Utara Pulau Sumatra. Hal ini berarti secara umum seluruh wilayah Indonesia berdasarkan prediksi POAMA akan mencapai puncak curah hujan pada Desember 2018.

Gambar 5. Probabilitas curah hujan berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata untuk curah hujan > 5 mm/hari (CH>150mm/bulan) dari POAMA yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Mei 2018.

Hasil prediksi 33 ensembel rata-rata POAMA kemudian dibandingkan dengan kondisi hujan klimatologis (30 tahun) yang didapat dari CMAP (CPC Merged Analysis of Precipitation) NOAA (Gambar 6). Tampak bahwa prediksi curah hujan Bulan Juli 2018 untuk wilayah Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Sulawesi dan sebagian besar Papua lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya. Sedaangkan wilayah Selatan Kalimantan dan wilayah tengah Sumatra menunjukkan curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya. Prediksi untuk bulan Agustus 2018 menunjukkan hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan diatas curah hujan klimatologisnya, kecuali wilayah utara Sumatra, selatan Kalimantan, Bali, dan selatan Papua yang menunjukkan kondisi curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya, serta utara Kalimantan yang diprediksi memiliki curah hujan normal.

Gambar 6. Perbandingan curah hujan prediksi POAMA 33 ensemble rata-rata yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Mei 2018 dan klimatologis curah hujan dari data CMAP.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

  (Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)




Others
VARIABILITAS IKLIM DESEMBER 2017
18 Jan 2018
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan November-Desember 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Desember 2017 dari GSMaP (Gambar 1),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di wilayah Indonesia…
VARIABILITAS IKLIM OKTOBER 2017
03 Nov 2017
Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Oktober 2017 dari GSMaP (Gambar 1a),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di…
VARIABILITAS IKLIM SEPTEMBER 2017
06 Oct 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus-September 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan september 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah - daerah pusat hujan terletak di pesisir barat Sumatra, barat…
VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2017
08 Sep 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus 2017 Pengamatan terhadap curah hujan pada bulan Agustus 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan bahwa daerah – daerah curah hujan maksimum terletak sebagian…
VARIABILITAS IKLIM JULI 2017
04 Aug 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli 2017 Hasil pengamatan curah hujan bulan Juli 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan daerah – daerah pusat hujan terletak di wilayah Indonesia bagian…
VARIABILITAS IKLIM JUNI 2017
07 Jul 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Mei - Juni 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Mei 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah dengan intensitas hujan maksimum terletak di…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL