Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2019
16 Sep 2019

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli-Agustus 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan perairan di seluruh wilayah Indonesia secara umum cenderung mengalami penurunan pada bulan Agustus 2019 jika dibandingkan dengan Juli 2019 (Gambar 1).  Suhu perairan terendah di pesisir selatan Pulau Jawa yaitu kurang dari 24 °C terlihat sedikit mengalami peluasan dibanding bulan sebelumnya. Pergerakan angin dari Benua Australia menuju benua Asia atau angin timuran pada bulan ini masih terlihat intens. Kecepatan angin di wilayah Indonesia mengalami peningkatan dibanding Juli 2019.

Kondisi keawanan di wilayah Selatan Indonesia pada Agustus 2019 terlihat mengalami penurunan dibandingkan Juli 2019, ditandai dengan adanya peningkatan nilai OLR. Sebaliknya, wilayah Indonesia bagian Utara mengalami peningkatan kondisi keawanan jika dibandingkan dengan Juli 2019. Wilayah Indonesia bagian Selatan (Pulau Jawan Bali, dan Nusa Tenggara) memiliki kondisi keawanan yang paling rendah dibanding wilayah Indonesia lainnya. Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (sekitar 200-210 W/m2) sedikit terlihat Pulau Sumatra bagian Utara.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Juli dan Agustus 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergerakan angin monsoon Timur yang masih intens menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan Bulan Agustus 2019 pun mengalami penurunan hampir di seluruh wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan Juli 2019. Sebaliknya, pembentukan awan konvektif yang terlihat intensif di Utara Indonesia menyebabkan peningkatan curah hujan di wilayah terebut (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Juli dan Agustus 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Agustus 2019 menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO netral, hal ini berbeda dari beberapa bulan sebelumnya kondisi ENSO cenderung positif. Kondisi ENSO netral selama Bulan Agustus 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 sekitar 0.3oC, lebih rendah dari bulan sebelumnya. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi kondisi ENSO untuk 8 bulan selanjutnya berada pada kategori netral dengan probabilitas tertinggi 67% pada musim Agustus-September-Oktober (ASO) 2019 dan berangsur turun hingga probabilitas netral sebesar 54% pada musim Maret-April-Mei (MAM) 2020.

Kondisi rata-rata Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Agustus 2019 tergolong positif dengan nilai rata-rata 0.844. Berdasarkan Bureau of Meteorology (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 oC hingga 0.4 oC. Nilai IOD tertinggi selama Bulan Agustus 2019 terjadi pada minggu ketiga (awal dasarian III) dengan nilai indeks IOD sekitar 1.08 oC, sedangkan kondisi IOD terendah terjadi pada awal minggu pertama (awal dasarian I) dengan nilai indeks IOD sekitar 0.51. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD mengalami peningkatan pada bulan September 2019, dan berangsur turun hingga Januari 2020 tapi masih dalam kategori positif. Memasuki Februari 2020 IOD diprediksi berada pada kondisi netral.


Analisis per dasarian (10 harian) bulan Agustus 2019

Awal bulan Agustus 2019, MJO berada dalam fase 4 dan bergerak dari Benua Maritim Indonesia (BMI). Pada akhir dasarian I Agustus intensitas MJO kuat (nilai RMM 1 dan 2 lebih dari 1). MJO melemah saat memasuki dasarian II hingga akhir dasarian III Agustus 2019. Pergerakan MJO pada dasarian I September diperkirakan masih lemah dan sedikit menguat pada awal dasarian II September 2019 dengan posisi masih di wilayah BMI.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Agustus 2019.

Distribusi curah hujan perdasarian selama Agustus 2019 dapat dilihat pada Gambar 3. Dasarian I Agustus 2019 terlihat curah hujan rendah di wilayah Indonesia kecuali Papua dan Perairan Selatan Pulau Sumatra, sebaliknya curah hujan terlihat sangat tinggi di perairan Utara Indonesia. Hal ini diperkirakan karena aktifnya MJO pada akhir dasarian I Agustus di wilayah BMI. Memasuki dasarian II, terlihat adanya peningkatan curah hujan di Indonesia bagian Utara, terutama di wilayah Parairan Selatan Sumatera, Kalimantan Utara, dan Papua.  Penurunan curah hujan yang cukup drastis terjadi pada dasarian III Juli 2019, seluruh wilayah Indonesia memiliki curah hujan yang sangat rendah (kurang dari 50 mm) pada dasarian ini. Masih intensnya angin monsoon timur yang membawa udara kering melewati wilayah Indonesia dari Selatan ke Utara (pola pergerakan angin pada Gambar 1) dan aktifnya MJO di atas BMI pada dasarian I Agustus 2019 mempengaruhi kondisi curah hujan Agustus 2019.


Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan September 2019 sampai dengan April 2020 menggunakan data hasil running Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 September 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 30 Agustus 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan September 2019, di daerah Indonesia bagian selatan masih mengalami kondisi kering dengan intensitas curah hujan rendah. Hal ini terjadi di daerah Pulau Jawa – Bali, Nusa Tenggara dan Timor Leste. Meskipun begitu, di daerah ini diprediksi akan mengalami hujan meskipun dengan akumulasi hujan yang sangat kecil jika dibandingkan dengan Agustus 2019. Meskipun begitu diperkirakan musim kemarau masih akan terjadi pada Bulan September ini, hal ini mengindikasikan awal musim hujan yang terlambat datang. Penyebab adalah masih aktifnya monsoon Australia dan belum adanya tanda-tanda kemunculan monsoon Asia seperti yang ditunjukkan oleh hasil prediksi pada Bulan September. Daerah Indonesia bagian selatan sebagian besar diprediksi akan mengalami peningkatan curah hujan pada Bulan Oktober 2019 seiring dengan munculnya monsun Asia dan melemahnya monsun Australia.

Menurut hasil prediksi CCAM, monsun Asia akan aktif hingga melemah pada Bulan Maret 2020 seiring menguatnya monsun Australia pada Bulan April 2020. Namun diperkirakan curah hujan masih akan tinggi hingga Bulan April 2020.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 September 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 30 Agustus 2019.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error yang tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan




Others
Variabilitas Iklim Bulan Oktober 2014
26 Nov 2014
Varibilitas iklim bulan Oktober 2014 menunjukkan bahwa musim kemarau masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia khususnya bagian selatan. Hal ini diperlihatkan oleh beberapa bukti: angin monsun…
Tidak Ada Potensi Kekeringan Pada Musim Kemarau 2014
26 Nov 2014
Berdasarkan data curah hujan Satelit TRMM pada Agustus-September 2014, musim kemarau di sebagaian besar wilayah Indonesia termasuk Pulau Jawa menunjukkan kondisi normal. Di mana di Jawa Barat bagian selatan…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL