Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM MEI 2019
14 Jun 2019

Kondisi Atmosfer Pada Bulan April-Mei 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan perairan wilayah Utara Indonesia secara umum cenderung meningkat pada bulan Mei 2019 jika dibandingkan dengan April 2019 (Gambar 1), sedangkan hal sebaliknya terjadi di wilayah selatan Indonesia ang suhu permukaan perairannya cenderung menurn.  Suhu perairan tertinggi terlihat di wilayah perairan utara Sumatra yaitu sekitar 30°C. Pergerakan angin dari benua australia menuju benua Asia atau angin timuran pada bulan ini terlihat semakin intens dibandingkan dengan April 2019. Kecepatan angin relatif erendah di wilayah Indonesia, kecuali Pulau Jawa yang terlihat memiliki ecepatan angin sedikit lebih tinggi yaitu sekitar 4 m/s.

Kondisi keawanan di wilayah Indonesia pada Mei 2019 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Maret 2019. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR pada Mei 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (dengan nilai OLR sekitar 190-200 W/m2) masih terlihat di atas pulau Papua dan Utara Sumatra.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan April dan Mei 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pergerakan angin monsoon Timur yang semakin intens menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan Bulan Mei 2019 pun mengalami penurunan yang signifikan untuk sebagian besar wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan April 2019, terutama di Pulau Jawa (Gambar 2). Sebaliknya, peningkatan curah hujan terjadi di perairan Timur Leste hingga mencapai 750 mm untuk bulan Mei 2019.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan April dan Mei 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Mei 2019 masih menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO positif yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Kondisi ENSO positif selama Bulan Mei 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 0.68oC. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi kondisi ENSO Positif (El Nino) akan tetap berlangsung hingga musim Desember-Januari-Februari (DJF) 2020, dengan peluang terjadinya ENSO Positif yang terus menurun hingga 8 bulan mendatang. Peluang ENSO positif untuk prediksi satu bulan ke depan adalah 89% dan berangsur menurun hingga musim DJF menjadi 57%.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Mei 2019 tergolong netral dengan nilai rata-rata 0.296. Berdasarkan Bureau of Meteorology (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 hingga 0.4. Nilai IOD terendah selama Bulan Mei 2019 terjadi pada minggu pertama, dengan nilai indeks IOD sekitar -0.16. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD pada bulan Juli 2019 mengalami peningkatan dibanding kondisi Mei 2019 dengan probabilitas IOD positif 69.7%. Selanjutnya IOD diprediksi konstan berada pada kategori IOD positif pada Agustus 2019 – November 2019 dengan probabilitas lebih dari 75%.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Mei 2019

Awal bulan Mei 2019, MJO berada dalam fase 5 dan bergerak dari Benua Maritim Indonesia. Pada dasarian I Mei intensitas MJO cukup kuat (nilai RMM 1 dan 2 lebih dari 1), MJO terus menguat saat memasuki dasarian II Mei pada fase 7 saat berada di Samudra Pasifik Barat. Peningkatan intensitas MJO signifikan hingga MJO semakin menguat pada akhir Mei 2019 saat berada di Samudra Hindia.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Mei 2019.

Curah hujan bulan Mei 2019 untuk wilayah Indonesia secara umum cukup rendah, hanya beberapa wilayah yang memiliki curah hujan tinggi pada bulan ini. Dasarian I Mei 2019 terlihat curah hujan masih cukup tinggi di wilayah Indonesia Bagian Timur terutama di perairan Timur Leste dengan curah hujan lebih dari 300 mm. Hal ini diperkirakan terkait dengan aktifnya MJO di wilayah Timur Indonesia menuju Pasifik Barat pada awal Bulan Mei 2019. Wilayah Indonesia lainnya memiliki curah hujan sekitar 20-90 mm. Terjadi penurunan curah hujan pada dasarian II Mei 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Perairan Barat Sumatra dan Kalimantan.

Penurunan curah hujan terus berlangsung di wilayah Selatan Indonesia pada dasarian III Mei 2019, terutama untuk Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sehingga curah hujan di wilayah tersebut kurang dari 30 mm. Hal sebaliknya terjadi di wilayah ekuator yang mengalami peningkatan curah hujan pada dasarian III Mei 2019. Hal ini karena semakin intensnya angin monsoon timur yang membawa udara kering melewati wilayah Indonesia, terlihat dari pola pergerakan angin pada Gambar 3.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Juni 2019 sampai dengan Januari 2020 menggunakan data hasil running Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Juni 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 29 Mei 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan Juni 2019 di daerah Indonesia bagian selatan menagalami curah hujan rendah. Hal ini terjadi di daerah Pulau Jawa – Bali, Nusa Tenggara dan Timor Leste. Penurunan curah hujan yang terjadi di bulan Juni 2019 merupakan tanda bahwa daerah–daerah tersebut telah memasuki musim kemarau dengan menguatnya monsoon Australia yang ditadndai dengan mulai menguatnya angin timuran di wilayah selatan. Meskipun begitu, di beberapa daerah di Indonesia masih terdapat daerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, seperti di bagian ekuator Indonesia, antara lain Sumatera bagian tengah, Kalimantan, Sulawesi, Ambon dan sebagian Papua. Musim kemarau akan mengalami puncaknya pada Bulan Juni, Juli dan Agustus 2019 dengan nilai kurang dari 100mm/bulan.

Menurut hasil prediksi menggunakan CCAM, monsoon Australia aktif sampai dengan Bulan Oktober, di mana terjadi pelemahan monsoon Australia seiring dengan menguatnya monsoon Asia pada Bulan November 2019. Dengan menguatnya monsoon Asia yang diprediksi terjadi pada Bulan November 2019, peningkatan curah hujan akan terjadi di Indonesia bagian selatan. Hal ini merupakan indikasi dari masuknya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Juni 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 29 Mei 2019.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error yang tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan




Others
VARIABILITAS IKLIM APRIL 2017
05 May 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Maret-April 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Maret 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah dan…
VARIABILITAS IKLIM MARET 2017
31 Mar 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Maret 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Maret 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah…
VARIABILITAS IKLIM FEBRUARI 2017
22 Mar 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Februari 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Februari 2017 dari GSMaP (Gambar 1), daerah – daerah pusat hujan terletak di sekitar pulau Jawa, Sumatera…
Kondisi Atmosfer Pada Bulan Januari 2017
28 Feb 2017
Menurut data Climate Prediction Center (CPC), kondisi ENSO di awal tahun 2017 terpantau neutral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan kisaran nilai -0,2°C dan bergerak menuju 0°C…
Peningkatan Hujan Terjadi di Wilayah Indonesia
17 Oct 2016
Evolusi curah hujan selama September menunjukkan peningkatan curah hujan secara signifikan terjadi selama pertengahan hingga akhir September di bagian selatan Indonesia terutama di bagian barat. Kondisi ini terjadi karena fenomena…
Variabilitas Iklim Bulan Agustus 2016: Kemarau Basah Karena Pengaruh Indian Ocean Dipole
09 Sep 2016
Sejak bulan Juni hingga Agustus, Indonesia bagian selatan sebagian besar mengalami kemarau basah. Indikator kemarau basah dibuktikan oleh tiga hal. Pertama, curah hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah tersebut.…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL