Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM MARET 2019
19 Apr 2019

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Februari-Maret 2019

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan di seluruh perairan Indonesia secara umum cenderung menghangat pada bulan Maret 2019 jika dibandingkan dengan Bulan Februari 2019 (Gambar 1). Suhu perairan tertinggi terlihat di wilayah perairan utara Sumatra yaitu sekitar 30°C. Angin monsoon masih menunjukkan kondisi monsoon asia atau angin baratan, namun terjadi penurunan kecepatan angin di seluruh wilayah Indonesia dibandingkan Februari 2019.

Kondisi keawanan di wilayah Indonesia mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan Februari 2019. Hal ini terlihat dari adanya penurunan nilai OLR pada Maret 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Pembentukan awan konvektif yang ditunjukkan oleh nilai OLR rendah (dengan nilai OLR sekitar 190-200 W/m2) masih terlihat cukup intensif di atas pulau Papua, Sumatera bagian Selatan dan Jawa Bagian Barat.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Februari dan Maret 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pada Bulan Maret 2019 terlihat bahwa pengaruh SST lokal terhadap pembentukan awan konvektif dan curah hujan di Indonesia lebih besar dibandingkan dengan pengaruh angin monsoon Asia. Peningkatan SST mengakibatkan peningkatan pembentukan awan konvektif sehingga curah hujan Bulan Maret 2019 di wilayah Indonesia pun mengalami peningkatan dibandingkan dengan Februari 2019 (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Februari dan Maret 2019  berdasarkan data GSMaP.

Data CPC hingga Maret 2019 yang masih menunjukkan kecenderungan anomali SST Nino 3.4 positif (El Nino) pada kisaran nilai 0.8oC dan berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Sehingga dapat dikategorikan sebagai El Nino lemah. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, kondisi ENSO Positif (El Nino) diprediksi akan tetap berlangsung hingga musim Juli-Agustus-September (JAS) oleh IRI.  Menurut IRI, peluang terjadinya ENSO Positif akan terus menurun hingga 8 bulan mendatang, yaitu musim Oktober-November-Desember (OND) 2019.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Maret 2019 tergolong netral dengan nilai 0.19. Berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika dalam rentang -0.4 hingga 0.4. Nilai IOD terendah selama Bulan Maret 2019 terjadi pada pertengahan bulan (minggu kedua dan ketiga), dengan nilai indeks IOD sekitar -0.13. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan indeks IOD pada keadaaan netral hingga Agustus 2019 dengan probabilitas 45.5%, dan mengalami peningkatan pada September 2019 dengan probabilitas IOD positif 55.6%.


Analisis per dasarian (10 harian) bulan Februari 2019

Awal bulan MJO 2019, MJO berada dalam fase awal dan bergerak dari Samudra Hindia. Pada dasarian I Maret intensitas MJO cukup kuat, dan pergerakan MJO mulai masuk dan berada di atas Indonesia (memasuki  fase 4) di dasarian II. Pada dasarian III, kondisi MJO melemah dan menyebabkan penurunan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia. NOAA memprediksi bahwa intensitas MJO tetap lemah hingga pertengahan dasarian April 2019.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Maret 2019.

Distribusi curah hujan bulan Maret 2019 untuk wilayah Indonesia pada dasarian I lebih merata dibandingkan dengan curah hujan pada dasarian II dan III (Gambar 3). Pada dasarian I terdapat beberapa daerah yang memiliki  curah hujan tinggi dan pembentukan awan konvektif di wilayah tersebut juga sangat intensif. Pembentukan awan konvektif pada dasarian I terlihat lebih tinggi dibanding dasarian II dan III. Pada dasarian II terjadi penurunan pembentukan awan konvektif yang terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR dibanding dasarian I, hal ini menyebabkan penurunan curah hujan di banyak wilayah di Indonesia. Wilayah yang masih memiliki curah hujan cukup tinggi pada dasarian II ini diantaranya Sumatra bagian Barat, Perairan Selatan Jawa, dan perairan sekitar Pulau Papua. Hal inilah yang menyebabkan bencana hidrometeorologi di Papua, yaitu banjir bandang Sentani pada tanggal 16 Maret 2019. Secara umum curah hujan di wilayah Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis pada dasarian III, kecuali untuk Pulau Sumatera yang justru mengalami peningkatan curah hujan. Hal ini diperkirakan berhubungan erat dengan pergerakan dan intensitas MJO selama Bulan Maret 2019.


Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan April 2019 sampai Agustus 2019 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 April 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 7 Februari 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan April 2019 menggambarkan curah hujan yang masih cukup tinggi di wilayah Indonesia berkaitan dengan monsoon Asia yang masih konsisten berhembus. Terlihat penyebaran hujan yang lebih tinggi di wilayah Timur Indonesia dibanding wilayah Barat Indonesia. Wilayah Pesisir Barat Sumatra, Utara Sumatra, sebagian Pulau Jawa, dan wilayah Sulawesi Barat diprediksi memiliki curah hujan yang sangat rendah (kurang dari 50mm) pada April 2019.

Curah hujan di Indonesia bagian Selatan diprediksi mulai mengalami penurunan pada Mei 2019, dan terus menurun secara gradual hingga Agustus 2019. Hal ini berkaitan dengan penguatan aktivitas monsoon Australia yang diprediksi akan terjadi mulai bulan Mei 2019 ditandai dengan aktifnya angin timuran di Indonesia bagian selatan yang menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan pada bulan Mei 2019 dan bergesernya puncak hujan ke arah tengah dan utara ekuator. Namun dalam musim peralihan, faktor MJO perlu diperhatikan untuk mengatasi peningkatan curah hujan harian hingga mingguan.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 April 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 7 Februari 2019.

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terjadi curah hujan lebih dari 50 mm pada 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan  <50 mm. Pada kesempatan ini, meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan analisis probabilitas curah hujan > 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim di Indonesia.

Gambar 5 menunjukkan probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata dari POAMA. Dari Gambar 5. tersebut tampak bahwa untuk prediksi bulan April 2019 probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari terlihat masih cukup tinggi di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Papua. Wilayah Pulau Jawa memiliki probabilitas curah hujan > 5 mm/hari kurang dari 50% pada April 2019 dan kondisi kering tersebut diprediksi akan terus meluas hingga hampir seluruh wilayah Indonesia pada Agustus 2019.

Gambar 5. Probabilitas curah hujan berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata untuk curah hujan > 5 mm/hari (CH>150mm/bulan) dari POAMA yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Januari 2019.

Hasil prediksi 33 ensambel rata-rata POAMA kemudian dibandingkan dengan kondisi hujan klimatologis (30 tahun) yang didapat dari CMAP (CPC Merged Analysis of Precipitation) NOAA (Gambar 6).

 Tampak bahwa prediksi curah hujan Bulan April 2019 untuk wilayah Perairan Barat Sumatra. Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan sebagian Pulau Papua lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya, sebaliknya wilayah Nusa Tenggara menunjukkan curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya.  Prediksi untuk Bulan Mei 2019 menunjukkan pola wilayah yang sama seperti bulan April hanya saja terdapat perluasan wilayah untuk yang memiliki curah lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya, yaitu Seluruh Pulau Sumatra, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan sebagian Pulau Papua. Sebaliknya, wilayah yang memiliki curah hujan lebih rendah dari curah hujan klimatologisnya diprediksi mengalami penyempitan pada Bulan Mei 2019 dibandingkan dengan Bulan April 2019. Sebagian besar Pulau Jawa diprediksi memiliki curah hujan normal (sesuai dengan curah hujan klimatologisnya) pada bulan April hingga Mei 2019.

Gambar 6. Perbandingan curah hujan prediksi POAMA 33 ensemble rata-rata yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Januari 2019 dan klimatologis curah hujan dari data CMAP.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan




Others
Peningkatan Hujan dan Awal Musim Hujan Variabilitas Iklim Bulan November 2015
21 Dec 2015
Ringkasan Selama November, curah hujan mulai turun cukup banyak di Jawa bagian barat. Secara umum peningkatan hujan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia meskipun angin monsun timuran masih…
Peningkatan Hujan Karena Pengaruh MJO Kuat-Variabilitas Iklim Bulan Oktober 2015
17 Nov 2015
Ringkasan Selama Oktober, curah hujan masih minim terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi kering terjadi di bulan Oktober sama seperti bulan September. Kondisi curah hujan minimum ini…
ElNino dan IOD Positif Menguat Variabilitas Iklim Bulan September 2015
12 Oct 2015
Ringkasan Selama September, curah hujan di wilayah Indonesia berkurang di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Peningkatan hujan terjadi di sebagian kecil Papua bagian tengah. Kondisi curah hujan minimum ini dipicu…
ElNino Semakin Menguat Variabilitas Iklim Bulan Agustus 2015
08 Sep 2015
Ringkasan Selama Agustus, curah hujan di wilayah Indonesia berkurang signifikan terutama di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Kondisi kering yang semakin meluas ke utara Indonesia ini dipicu oleh beberapa…
Variabilitas Iklim Bulan Juli 2015
10 Aug 2015
Sinyal Kering Meluas di Wilayah Indonesia Variabilitas Iklim Bulan Juli 201 5 Ringkasan Curah hujan di…
Variabilitas Iklim Bulan Juni 2015
07 Jul 2015
Wilayah Indonesia Kering dan Tanpa Awan Variabilitas Iklim Bulan Juni 201 5 Ringkasan Curah hujan di sebagian…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL