Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM OKTOBER 2017
03 Nov 2017

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan September-Oktober 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Oktober 2017 dari GSMaP (Gambar 1a),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di wilayah Indonesia yang ditandai dengan mulai menghilangnya daerah pusat hujan di pesisir barat Sumatra dan Papua serta bergeraknya pusat hujan ke utara di wilayah Kalimantan dan utara Papua. Sebaliknya mulai terlihat peningkatan curah hujan di bagian selatan Indonesia terutama di wilayah Jawa.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan September dan Oktober 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan oleh gambar 2 yang memperlihatkan semakin terlihatnya transisi angin baratan dari arah Asia pada bulan Oktober 2017. Jika dibandingkan antara bulan September dan Oktober terlihat adanya pembelokan arah angin di utara Kalimantan pada bulan Oktober 2017, yang awalnya pada bulan September angin berasal dari barat daya (timuran) berubah menjadi angin baratan (monsun Asia). Terlihat kecepatan angin yang berkurang drastis pada bulan Oktober 2017 dengan kecepatan maksimum menjadi 6-7 m/s yang semakin menguatkan terjadinya transisi musim di wilayah Indonesia.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850 mb September dan Oktober 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Hal ini menandakan bahwa pengaruh angin timuran (monsun Australia) pada September –Oktober 2017 sudah mulai berkurang, dengan mulai bertambahnya curah hujan di wilayah selatan Indonesia. Gambar 2 juga menunjukkan bahwa konvergensi terbentuk di sebagian besar wilayah Indonesia sebagai akibat dari berkurangnya pengaruh monsun Australia. Dearh konvergensi pada bulan Oktober menunjukkan sabuk Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang membentang dari selatan Sumatra ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua utara. Hal ini mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk selama bulan Oktober 2017 di daerah tersebut.

Analisis lebih lanjut mengenai kondisi awan di wilayah Indonesia dilakukan menggunakan data OLR selama bulan Oktober 2017. Profil OLR selama bulan Oktober menunjukkan bahwa selama awal Oktober terlihat aktivitas konvektif yang rendah di wilayah tengah Indonesia (gugusan kepulauan Bali-Nusa Tenggara, timur Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sekitarnya) yang mengakibatkan curah hujan yang rendah di wilayah tersebut. Selanjutnya selama pertengahan Oktober aktivitas konvektif lebih terkonsentrasi di bagian utara Indonesia dan semakin meningkat di selatan. Selama akhir Oktober aktvitas konvektif meluas ke wilayah Papua, namun kembali berkurang di selatan Indonesia. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tidak adanya pola khusus curah hujan selama bulan ini yang mungkin dapat disebabkan karena berada dalam masa transisi.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Oktober 2017.

Data CPC menunjukkan kondisi ENSO selama bulan Oktober 2017 masih dalam kondisi netral. Hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 yang berada diatas ambang batas untuk La Nina dengan nilai -0,5°C. CPC menyebutkan bahwa status ENSO berada dalam status garis batas antara netral dan La Nina lemah, sehingga trend temperaturnya kemungkinan akan terus mendingin. Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada pertengahan bulan November 2017, dari periode OND peluang terjadinya La Nina adalah 72%, peluang La Nina untuk NDJ meningkat menjadi 76% dengan peluang ENSO neutral turun menjadi 24%. Kondisi ini diprediksi akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan. Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia juga menunjukkan kondisi IOD netral dan diperkirakan akan berlangsung hingga penghujung tahun. Prediksi IOD menggunakan data POAMA menunjukkan kemungkinan besar kondisi IOD akan tetap netral hingga beberapa bulan mendatang. Namun yang menarik untuk dicermati ialah kondisi MJO, selama bulan Oktober MJO bergerak dari barat Pasifik menuju benua maritim dengan phase yang cukup kuat sehingga dapat meningkatkan curah hujan di barat Indonesia.

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan November 2017 – Juni 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan November 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan November 2017dan SST prediksi dari POAMA yang dikeluarkan pada tanggal 28 Oktober 2017.

Hasil prediksi curah hujan bulanan dengan kondisi awal bulan Oktober 2017 adalah adanya peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan. Curah hujan merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jika dilihat dari angin, monsun Asia yang lembab mulai bergerak intens sehingga di Indonesia bagian selatan (Pulau Jawa, Bali , dan Nusa tenggara) berlaku anging baratan. Hal ini berpengarh terhadap tingginya curah hujan di wilayah tersebut. Hal ini merupakan tanda-tanda datangnya musim hujan meskipun peningkatan curah hujan terjadi pada bulan Oktober (lihat laporan variabilitas iklim September) di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan. Pada Bulan November terlihat curah hujan yang sudah mulai intens di daerah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara akibat mulai aktifnya pengaruh dari monsun asia. Hal ini menandakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah tersebut. Menurut hasil model CCAM, prediksi musim hujan di wilayah Indonesia bagian selatan kemungkinan akan terjadi hingga bulan Maret/ April 2018. Dan menurut hasil prediksi CCAM, pada Bulan April 2018 mulai terjadi perubahan angin seiring aktifnya monsun Australia yang menyebabkan penurunan curah hujan di Bulan Mei 2018.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan errorr akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 

(Tim Variabilitas Iklim PSTA LAPAN : Nurzaman A, Iis S, Lely Q.A, Erma Y, Haries S, Gammamerdianti, Shailla R, Rahmawati S)




Others
VARIABILITAS IKLIM OKTOBER 2017
03 Nov 2017
Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Oktober 2017 dari GSMaP (Gambar 1a),  terlihat bahwa intensitas curah hujan berkurang cukup signifikan di…
VARIABILITAS IKLIM SEPTEMBER 2017
06 Oct 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus-September 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan september 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah - daerah pusat hujan terletak di pesisir barat Sumatra, barat…
VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2017
08 Sep 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Agustus 2017 Pengamatan terhadap curah hujan pada bulan Agustus 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan bahwa daerah – daerah curah hujan maksimum terletak sebagian…
VARIABILITAS IKLIM JULI 2017
04 Aug 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli 2017 Hasil pengamatan curah hujan bulan Juli 2017 dari satelit GSMaP (Gambar 1) menunjukkan daerah – daerah pusat hujan terletak di wilayah Indonesia bagian…
VARIABILITAS IKLIM JUNI 2017
07 Jul 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Mei - Juni 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Mei 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah dengan intensitas hujan maksimum terletak di…
VARIABILITAS IKLIM MEI 2017
09 Jun 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan April-Mei 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Mei 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah dan…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL