Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM FEBRUARI 2019
11 Mar 2019

Kondisi Atmosfer Pada Bulan Januari-Februari 2019

 

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Suhu permukaan di perairan Indonesia cenderung menurun pada bulan Februari 2019 jika dibandingkan dengan bulan Januari 2019, kecuali untuk wilayah perairan barat Sumatra yang terlihat mengalami sedikit peningkatan (Gambar 1). Suhu tertinggi terlihat di perairan wilayah barat Sumatra yaitu sekitar 30°C. Angin monsoon masih menunjukkan kondisi monsoon Asia atau angin baratan, namun bulan Februari tampak  ada penurunan kecepatan angin di wilayah barat dan selatan Indonesia dibandingkan Januari 2019. Selain itu, terlihat adanya pusat tekanan rendah yang terbentuk di Samudra Pasifik bagian barat (Sebelah timur Australia).

Kondisi awan bulan Februari di wilayah Indonesia juga mengalami pengurangan jika dibandingkan dengan Januari 2019. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR pada Februari 2019 hampir di seluruh wilayah Indonesia (Gambar 1).  Meskipun demikian, pembentukan awan konvektif tampak masih terlihat cukup intensif di atas pulau-pulau besar Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai OLR yang rendah (sekitar 190-210 W/m2).

Gambar 1. Kondisi SST, angin di level 850 mb, dan OLR untuk bulan Januari dan Februari 2019 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Pada Bulan Februari 2019 terlihat bahwa pengaruh SST lokal terhadap pembentukan awan konvektif dan curah hujan di Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh angin monsoon Asia. Penurunan SST mengakibatkan penurunan pembentukan awan konvektif sehingga curah hujan bulan Februari 2019 pun menurun cukup drastis dibandingkan dengan Januari 2019 (Gambar 2).

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) di wilayah Indonesia pada bulan Januari dan Februari 2019  berdasarkan data GSMaP.

Penurunan curah hujan di wilayah Indonesia juga didukung oleh data CPC yang masih menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO positif yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu. Kondisi ENSO positif selama Bulan Februari 2019 digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 yang mencapai nilai 0.69oC meskipun masih tergolong lemah. Berdasarkan kondisi atmosfer dan lautan, IRI memprediksi kondisi ENSO Positif (El Nino) akan tetap berlangsung hingga musim Maret-April-Mei (MAM). Menurut IRI, peluang terjadinya El Nino akan terus menurun dan mencapai kondisi netral pada musim Mei-Juni-Juli (MJJ) 2019 dengan probabilitas ENSO netral 48%.

Kondisi Dipole Mode (IOD) di Samudra Hindia pada bulan Februari 2019 tergolong netral dengan nilai 0.39. Berdasarkan Bureau of Meteorologi (BOM) Australia Indeks IOD dinyatakan netral jika berada dalam rentang -0.4 hingga 0.4. Nilai IOD terendah selama Bulan Febuari 2019 terjadi pada akhir bulan, mencapai nilai indeks -0.48. Prediksi kondisi IOD yang dikeluarkan BOM menyatakan bahwa indeks IOD akan mengalami peningkatan tapi masih dalam batas netral hingga Juni 2019 dengan probabilitas 74,7%, dan mencapai kondisi IOD positif pada Juli 2019 dengan probabilitas IOD positif 54,5%.

Analisis per dasarian (10 harian) bulan Februari 2019

Awal bulan Februari 2019, MJO berada dalam fase akhir dan bergerak dari Pasifik Barat. Pada dasarian I dan II Februari, intensitas MJO tidak terlalu kuat dan posisinya berada jauh dari Indonesia. Dasarian III Februari 2019, intensitas MJO menguat namun posisinya masih berada di atas benua Afrika sehingga hanya sedikit berpengaruh (tidak signifikan) terhadap pembentukan awan konvektif di atas Indonesia. NOAA memprediksi bahwa intensitas MJO tetap kuat saat memasuki dasarian I Maret, dan mulai melemah pada dasarian kedua Maret 2019.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian bulan Februari 2019.

Distribusi curah hujan bulan Februari 2019 untuk wilayah Indonesia pada dasarian I lebih merata dibandingkan dengan curah hujan pada dasarian II dan III (Gambar 3). Pada dasarian I terdapat beberapa daerah yang memiliki  curah hujan tinggi dan pembentukan awan konvektf di wilayah tersebut juga sangat intensif. Pada dasarian II terjadi penurunan pembentukan awan konvektif yang terlihat dari adanya peningkatan nilai OLR dibanding dasarian I, hal ini menyebabkan penurunan curah hujan di banyak wilayah di Indonesia. Wilayah yang masih memiliki curah hujan cukup tinggi pada dasarian II ini diantaranya Sumatra bagian barat, Kalimantan Barat, dan Papua. Curah hujan di wilayah Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis pada dasarian III, curah hujan lebih dari 200 mm hanya terjadi di perairan barat Sumatra dan Pulau Papua. Hal ini diperkirakan berhubungan erat dengan penurunan indeks IOD pada dasarian III Februari 2019.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Maret 2019 sampai September 2019 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition 1 Maret 2019, dan menggunakan data prediksi SST POAMA m24b_e02 3 Februari 2019 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Menurut prediksi hasil model CCAM untuk bulan Maret 2019 menggambarkan penyebaran hujan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia kecuali Pulau Sumatra bagian Utara dan sebagian kecil wilayah Jawa Barat yang memiliki curah hujan rendah (kurang dari 50 mm). Curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan masih tergolong tinggi hingga bulan April 2019, berkaitan dengan monsoon Asia yang masih konsisten berhembus. Curah hujan untuk wilayah Indonesia bagian selatan diprediksi mulai mengalami penurunan pada Mei 2019, dan terus menurun secara gradual hingga September 2019. Hampir sama dengan prediksi bulan Januari 2019 (lihat Laporan Variabilitas Iklim Januari 2019) bahwa penguatan aktivitas monsoon Australia diprediksi akan terjadi mulai di bulan April 2019 ditandai dengan aktifnya angin timuran di Indonesia bagian selatan yang menyebabkan penurunan curah hujan di Indonesia bagian selatan pada bulan Mei 2019 dan bergesernya puncak hujan ke arah tengah dan utara ekuator.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) 1 Maret 2019 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_e02) yang dikeluarkan pada tanggal 3 Februari 2019.

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terjadi curah hujan lebih dari 50 mm pada 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan  <50 mm. Pada kesempatan ini, meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan analisis probabilitas curah hujan > 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim di Indonesia.

Gambar 5 menunjukkan probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata dari POAMA. Dari Gambar 5 tersebut tampak bahwa untuk prediksi bulan Maret 2019 probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari terlihat masih cukup tinggi hampir di seluruh wilayah indonesia kecuali Sumatra bagian utara dan Pulau Jawa. Sumatera bagian utara sedang mengalami musim kering dimana probabilitas curah hujan > 5 mm/hari sebesar 0%, sedangkan Pulau Jawa memiliki probabilitas curah hujan > 5 mm/hari kurang dari 50%. Kondisi kering tersebut diprediksi akan terus meluas dan mencapai puncaknya pada Agustus 2019.

Gambar 5. Probabilitas curah hujan berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata untuk curah hujan > 5 mm/hari (CH>150mm/bulan) dari POAMA yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Januari 2019.

Hasil prediksi 33 ensambel rata-rata POAMA kemudian dibandingkan dengan kondisi hujan klimatologis (30 tahun) yang diperoleh dari CMAP (CPC Merged Analysis of Precipitation) NOAA ditunjukkan pada Gambar 6. Tampak bahwa prediksi curah hujan bulan Maret untuk wilayah Perairan barat Sumatra. Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah dan sebagian Pulau Papua lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya, sebaliknya wilayah Nusa Tenggara menunjukkan curah hujan dibawah curah hujan klimatologisnya.  Prediksi untuk bulan April dan Mei menunjukkan pola wilayah yang sama seperti bulan Maret hanya saja terdapat perluasan wilayah baik untuk yang memiliki curah hujan lebih rendah maupun lebih tinggi dari curah hujan klimatologisnya. Sebagian besar Pulau Jawa diprediksi memiliki curah hujan normal (sesuai dengan curah hujan klimatologisnya) pada bulan Maret hingga Mei 2019.

Gambar 6. Perbandingan curah hujan prediksi POAMA 33 ensemble rata-rata yang dikeluarkan setiap 4 hari di bulan Januari 2019 dan klimatologis curah hujan dari data CMAP.

 

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya.

 

Tim Variabilitas Iklim 2019 – PSTA LAPAN;

Haries Satyawardhana, Eka Putri Wulandari, Gammamerdianti, Lely Qodrita Avia, Iis Sofiati, Suaydhi, Eddy Hermawan




Others
VARIABILITAS IKLIM AGUSTUS 2018
12 Sep 2018
Kondisi Atmosfer Pada Bulan Juli-Agustus 2018 Analisis bulanan kondisi atmosfer Pada bulan Agustus (Gambar 1), suhu permukaan di perairan selatan Indonesia cenderung dingin akibat dari pengaruh musim dingin di…
VARIABILITAS IKLIM Juni 2018
20 Jul 2018
Kondisi Atmosfer Pada Bulan  Mei-Juni 2018 Analisis bulanan kondisi atmosfer Bulan Juni 2018, pengaruh monsun Australia di selatan Indonesia cenderung melemah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, hal ini terlihat…
VARIABILITAS IKLIM MEI 2018
25 Jun 2018
Kondisi Atmosfer Pada Bulan  April-Mei 2018 Analisis bulanan kondisi atmosfer Bulan Mei 2018, pengaruh monsun Australia semakin menguat di Indonesia bagian selatan, dan di bagian utara sudah tidak ada…
VARIABILITAS IKLIM APRIL 2018
26 May 2018
Kondisi Atmosfer Pada Bulan  Maret-April 2018 Analisis bulanan kondisi atmosfer Bulan April 2018, pengaruh monsun Australia semakin menguat di Indonesia bagian selatan, sementara di bagian utara terlihat monsun Asia…
VARIABILITAS IKLIM MARET 2018
19 Apr 2018
Kondisi Atmosfer Pada Bulan  Februari - Maret 2018 Pada bulan Maret 2018 terlihat monsun Asia mulai melemah. Hal ini menandakan Indonesia telah  memasuki periode transisi. Hal ini dijelaskan oleh Gambar…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443


© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL