Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM MEI 2017
09 Jun 2017

1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan April-Mei 2017

Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Mei 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah dan sebagian besar wilayah Papua. Sedangkan curah hujan di Indonesia bagian selatan (Jawa, Bali) hanya daerah jawa barat yang  mengalami hujan, itupun dengan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah Sulawesi dan Papua.  Penurunan intensitas curah hujan di Indonesia bagian selatan tergolong drastis jika dibandingkan dengan bulan April. Jika daerah tenggara pada bulan April masih mengalami curah hujan tinggi, maka pada bulan Mei 2017 puncak hujan terjadi lebih ke utara.

Gambar 1. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Mei 2017 berdasarkan data GSMaP.

Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar 2 yang memperlihatkan angin timuran (monsoon musim dingin Australia) pada bulan Mei yang bergerak lebih konsisten dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan pada bulan April 2017.

Gambar 2. Kondisi angin di level 850mb dan OLR pada bulan April dan Mei 2017 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Hal ini menandakan bahwa pengaruh angin baratan (monsoon asia) pada April –Mei 2017 sudah berkurang atau lebih tepatnya hilang, meski masih terdapat curah hujan pada bulan April-Mei di barat wilayah Indonesia bagian selatan (Jawa Barat). Gambar 2 juga menunjukkan bahwa banyak terjadi konvergensi di Indonesia bagian tengah (ekuator) akibat dari berkurangnya pengaruh monsoon Asia dan menguatnya monsoon Australia. Hal ini mengakibatkan banyaknya awan-awan konvektif yang terbentuk selama bulan Mei 2017 di daerah tersebut.

Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan data OLR yang menunjukkan tingkat konvektivitas yang rendah di Indonesia bagian selatan pada Bulan Mei 2017. Sedangkan pusat awan-awan konvektif terdapat di sekitar ekuator, belahan bumi utara dan Papua. Hal ini mengakibatkan tingginya curah hujan di kawasan tersebut.

Gambar 3. Kondisi OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dan CH dasarian (GSMaP) Mei 2017.

Data CPC menunjukkan kondisi ENSO selama bulan Mei 2017 terpantau netral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan nilai 0,5°C (update 5 Juni 2017). Prediksi El Nino menurut IRI yang dirilis pada pertengahan bulan Juni 2017, dari periode MJJ peluang terjadinya ENSO netral dan El Nino adalah 50%, namun peluang El Nino untuk JJA menurun menjadi 40% dan peluang ENSO neutral naik menjadi 55%. Kondisi ini diprediksi akan terjadi hingga beberapa bulan ke depan. Sedangkan kondisi Dipole Mode di Samudera Hindia juga menunjukkan kondisi neutral dengan nilai indeks 0,4°C  untuk bulan Juni (update 4 Juni 2017). Hal ini menggambarkan bahwa tidak ada gangguan ENSO dan IOD terhadap kondisi atmosfer pada Bulan Juni 2017. Sedangkan prediksi IOD menggunakan data POAMA hingga beberapa bulan mendatang menunjukkan kondisi neutral. Namun yang menarik untuk dicermati ialah kondisi MJO, yang dapat menyebabkan adanya hujan di musim kemarau. MJO aktif akan menyebabkan hujan selama beberapa hari.

2. Prediksi Curah Hujan untuk beberapa bulan (Juni – Oktober) mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan Juni – September 2017 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan Juni 2017 ditunjukkan oleh Gambar 4.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) tanggal 1 Juni 2017dan SST prediksi dari POAMA tanggal 28 Mei 2017.

Hasil prediksi hujan rata-rata bulanan dengan kondisi awal bulan Juni 2017 disajikan dalam bentuk probabilitas dari 27 anggota ensemble dari model POAMA. Hasil prediksi bulanan ini untuk peluang hujan normal (hujan rata-rata lebih dari 5 mm/hari sebagai acuan untuk awal musim, yaitu lebih dari 150 mm/bulan) pada Gambar 6.

Gambar 5. Peluang terjadinya curah hujan di atas 3 mm/hari (rendah) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Mei 2017.

Dari  hasil prediksi model POAMA dengan initial condition bulan Maret 2017, hujan ringan (rata-rata kurang dari 3 mm/hari), pada bulan Juni –November 2017, Nusa Tenggara mempunyai probabilitas tinggi terhadap terjadinya hujan ringan. Probabilitas hujan ringan ini mengindikasikan peta musim kemarau di wilayah Indonesia bagian Selatan, yang kemungkinan bisa terjadi sampai November 2017.

Gambar 6. Peluang terjadinya curah hujan di atas 5 mm/hari (normal) dalam prediksi POAMA initial condition Bulan Mei 2017.

 (Oleh Tim Variabilitas Iklim 2017 – PSTA LAPAN)




Others
Variabilitas Iklim Bulan Desember 2014
01 Jan 2015
MJO dan Siklon Tropis Memicu Peningkatan Hujan di Indonesia Variabilitas Iklim Bulan Desember 2014 Ringkasan
Variabilitas Iklim Bulan November 2014
15 Dec 2014
Varibilitas iklim bulan November 2014 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan cukup tinggi (>100 mm), kecuali Jawa bagian timur, Bali, dan Nusa Tenggara yang mengalami kondisi…
Variabilitas Iklim Bulan Oktober 2014
26 Nov 2014
Varibilitas iklim bulan Oktober 2014 menunjukkan bahwa musim kemarau masih terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia khususnya bagian selatan. Hal ini diperlihatkan oleh beberapa bukti: angin monsun…
Tidak Ada Potensi Kekeringan Pada Musim Kemarau 2014
26 Nov 2014
Berdasarkan data curah hujan Satelit TRMM pada Agustus-September 2014, musim kemarau di sebagaian besar wilayah Indonesia termasuk Pulau Jawa menunjukkan kondisi normal. Di mana di Jawa Barat bagian selatan…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL