Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


VARIABILITAS IKLIM APRIL 2018
26 May 2018

Kondisi Atmosfer Pada Bulan  Maret-April 2018

Analisis bulanan kondisi atmosfer

Bulan April 2018, pengaruh monsun Australia semakin menguat di Indonesia bagian selatan, sementara di bagian utara terlihat monsun Asia semakin melemah. Gambar 1 menunjukkan angin baratan bulan Maret 2018 yang sudah melemah mulai berubah arah menjadi angin timuran pada Bulan April 2018 di atas Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Hal ini cukup menjelaskan bahwa Indonesia masih berada pada periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Peningkatan SST terjadi di seluruh perairan Indonesia pada bulan April 2018 dibandingkan dengan Maret 2018. Tampak perairan hangat (>30C) yang bersumber dari perairan utara Australia mulai bergeser menuju ekuator.

Dibandingkan dengan Bulan Maret 2018, berdasarkan data OLR pada bulan April 2018 secara signifikan tampak adanya pengurangan awan konvektif, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. Hal tersebut ditunjukkan oleh adanya nilai OLR yang tinggi (>270 W/m2) di wilayah tersebut.

Gambar 1. Kondisi angin di level 850 mb, SST dan OLR bulan Maret dan April 2018 berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR.

Beberapa parameter atmosfer seperti angin permukaaan, SST dan OLR sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, cukup signifikan mempengaruhi curah hujan bulan April 2018 (Gambar 2). Curah hujan bulan April 2018 tampak lebih rendah dibandingkan bulan Maret 2018, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. Namun di perairan barat Sumatera, curah hujan bulanan masih cukup tinggi dengan akumulasi lebih dari 700mm. Sedangkan curah hujan yang tinggi di wilayah perairan tenggara Indonesia pada bulan Maret 2018, tampak mulai hilang pada bulan April 2018. Kondisi tersebut bisa terjadi disebabkan antara lain karena aktifnya monsoon Australia dengan pergerakan angin timuran yang terlihat di daerah tersebut. Sehingga secara umum, curah hujan di wilayah Indonesia tampak lebih terkonsentrasi di daerah ekuator.

Gambar 2. Akumulasi curah hujan (mm) Indonesia Bulan Maret dan April 2018 berdasarkan data GSMaP.

Sementara itu data CPC yang menggambarkan kondisi ENSO selama bulan April 2018 menunjukkan kecenderungan kondisi ENSO neutral, setelah pada bulan-bulan sebelumnya menunjukkan kondisi La Nina lemah.  Hal ini digambarkan oleh anomali SST Nino 3.4 sebesar -0.6oC pada awal April dan bergerak menuju 0 oC hingga akhir April 2018. Nilai ini berada di antara ambang batas ENSO netral yaitu antara -0,5oC dan 0.5oC.

Menurut IRI (diakses pada 1 Mei 2018), secara keseluruhan berdasarkan  kondisi atmosfer dan lautan, hasil prediksi ENSO untuk beberapa bulan mendatang terutama periode AMJ 2018 menunjukkan bahwa peluang terbesar  (80%) adalah ENSO dalam fase neutral. Peluang terjadinya ENSO netral tersebut akan berlangsung hingga periode SON 2018  namun peluangnya semakin kecil. Sedangkan peluang El Nino muncul pada JJA 2018 dngan peluang  20%. Namun probabilitas El Nino tersebut akan mengalami kenaikan hingga periode DJF 2018/2019 meskipun masih rendah dibanding peluang ENSO neutral.

Kondisi Dipole Mode di Samudra Hindia pada bulan April tergolong netral. Nilai indeks IOD tampak menurun dari awal hingga akhir bulan dengan rata-rata indeks IOD sebesar 0.380C. Begitu juga dengan prediksi dari Bureau of Meteorologi (BOM) Australia, kondisi IOD tetap netral untuk bulan selanjutnya dengan kemungkinan kejadian lebih dari 80%, dan diperkirakan terus menurun hingga Juli 2018.

Analisis per dasarian (10 harian) Bulan April 2018

Selama bulan April 2018, MJO bergerak dari Afrika menuju Samudra Hindia. MJO pada dasarian II sudah memasuki Samudra Hindia dan bergerak menuju Benua Maritim dengan intensitas kuat, namun terus melemah pada dasarian III saat memasuki Indonesia. Lemahnya MJO saat berada di atas Indonesia menyebabkan pengaruhnya terhadap kondisi cuaca di Indonesia relatif kecil. CPC memprediksi MJO terus meningkat hingga pertengahan Mei 2018 dan berada di Samudra Hindia bagian tengah dan timur.

Gambar 3. Kondisi CH (GSMaP) dan OLR berdasarkan data reanalisis NCEP/NCAR dasarian April 2018.

Distribusi curah hujan bulan April 2018 untuk dasarian I terlihat lebih kecil dibanding dengan dasarian II dan III. Pada dasarian I, curah hujan rendah yang terjadi terkait dengan aktifnya monsun Australia yang tetap konsisten, dimana monsoon Australia membawa pengaruh kering terhadap Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia bagian selatan. Hal ini mengakibatkan rendahnya tingkat keawanan di Indonesia pada dasarian I yang terlihat pada Gambar 3.

Adanya peningkatan awan konvektif pada dasarian II disebabkan oleh MJO aktif di Samudra Hindia (fase 3 dan 4) sehingga menyebabkan curah hujan yang lebih tinggi dibanding pada dasarian I, terutama di perairan barat Sumatra. Sedangkan pada dasarian III curah hujan terlihat masih tinggi di Indonesia, meskipun indeks MJO menunjukkan bahwa terjadi penurunan internsitas MJO dari dasarian II yang kuat menjadi lemah pada dasarian III. Akumulasi curah hujan yang masih tinggi pada dasarian III  tersebut tampak akibat adanya gangguan atmosfer berupa skilon tropis Flamboyan yang terjadi pada akhir bulan April 2018.

Berdasarkan prediksi CPC menunjukkan bahwa MJO akan lemah dan masuk fase disipasi pada bulan Mei 2018, yang dapat memberikan efek kering di awal bulan Mei 2018.

Dari prediksi CPC menunjukkan bahwa MJO akan lemah dan masuk fase disipasi pada bulan Mei 2018, yang dapat memberikan efek kering di awal bulan Mei 2018.

Prediksi Curah Hujan untuk Beberapa Bulan Mendatang di Indonesia

Prediksi curah hujan untuk bulan Mei sampai Desember 2018 menggunakan data hasil Conformal Cubic Atmospheric Model (CCAM) dengan initial condition bulan 1 Mei 2018 ditunjukkan oleh Gambar 4. Hasil prediksi curah hujan bulanan menggunakan CCAM dengan initial condition 1 Mei 2018 menunjukkan adanya penurunan  curah hujan di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan Mei  hingga Agustus  2018.  Pada bulan Mei 2018 tampak sebagian Jawa akan mengalami awal musim kemarau.  Meskipun demikian, di sebagian Pulau Jawa masih akan terjadi hujan namun dengan intensitas yang lebih kecil dibanding bulan April 2018 (lihat Laporan Variabilitas Iklim Bulan Maret sub bab prediksi). Sedangkan analisis pergerakan angin pada Gambar 4 tersebut menunjukkan bahwa aktivitas monsun Australia mulai kuat pada bulan Mei 2018 di Indonesia bagian selatan dengan tingginya kecepatan angin timuran di daerah tersebut. Seiring dengan konsistennya monsun Australia yang mempunyai sifat kering, maka puncak musim kemarau di Pulau Jawa akan terjadi pada bulan Juni 2018, sedangkan pada bagian utara ekuator, akan mengalami kenaikan curah hujan.

Berdasarkan hasil prediksi CCAM tersebut, konsistensi monsun Australia akan melemah pada bulan September 2018 dan memasuki musim peralihan dimana terdapat peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia terutama di wilayah Indonesia bagian selatan mulai dari Jawa bagian barat bergerak ke timur. Menurut hasil prediksi monsun Australia melemah pada bulan September dan mulai berganti menjadi monsun Asia pada Oktober 2018.

Gambar 4. Prediksi curah hujan dan angin permukaan menggunakan CCAM dengan initial condition dari data Global Forecasting System (GFS) bulan 1 Mei 2018 dan SST prediksi dari POAMA (m24b_emn) yang dikeluarkan pada tanggal 29 April 2018.

Kriteria awal musim hujan menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah jika terjadi curah hujan lebih dari 50 mm pada 3 dasarian berturut-turut, sedangkan awal musim kemarau didefinisikan jika dalam 3 dasarian berturut-turut terdapat curah hujan kurang dari 50 mm. Pada kesempatan ini, meskipun tidak disajikan dalam resolusi temporal dasarian, namun diharapkan dengan analisis probabilitas curah hujan > 5mm/hari (setara dengan 150 mm/bulan) dapat menggambarkan kriteria musim di Indonesia.

Pada Gambar 5. yang menunjukkan probabilitas curah hujan dengan intensitas > 5 mm/hari berdasarkan prediksi 33 ensemble rata-rata dari POAMA. Dari Gambar 5. tersebut tampak bahwa pada prediksi bulan Mei 2018 di wilayah Indonesia terutama perairan selatan Indonesia, Jawa bagian timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan Maluku menunjukkan sudah masuk awal musim kemarau dimana probabilitas curah hujan > 5 mm/hari tampak kecil (kurang dari 30%). Kondisi kering tersebut pada bulan Juni dan Juli 2018 diprediksi akan semakin meluas termasuk Kalimantan dan Sumatera bagian utara. Namun untuk Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara tampak kondisi kering akan terus berlanjut dan mencapai puncaknya pada bulan Oktober 2018.

Gambar 5. Probabilitas dari prediksi 33 ensemble rata-rata untuk curah hujan > 5 mm/hari (CH>150mm/bulan) dari POAMA yang dikeluarkan setiap 4 hari di Bulan April 2018.

Catatan: Terdapat kemungkinan perubahan dalam prediksi yang dihasilkan di bulan selanjutnya dikarenakan update kondisi inisial dan SST prediksi yang digunakan dalam model, dan mohon diperhatikan kemungkinan error akan tinggi untuk prediksi yang jauh dari initial condition, oleh karena itu prediksi akan selalu di-update setiap bulannya. (Tim Variabilitas Iklim 2018 – PSTA LAPAN)



Others
VARIABILITAS IKLIM MARET 2017
31 Mar 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Maret 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Maret 2017 dari GSMaP (Gambar 1a), daerah – daerah pusat hujan terletak di Sulawesi bagian tengah…
VARIABILITAS IKLIM FEBRUARI 2017
22 Mar 2017
1. Kondisi Atmosfer Pada Bulan Februari 2017 Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan bulan Februari 2017 dari GSMaP (Gambar 1), daerah – daerah pusat hujan terletak di sekitar pulau Jawa, Sumatera…
Kondisi Atmosfer Pada Bulan Januari 2017
28 Feb 2017
Menurut data Climate Prediction Center (CPC), kondisi ENSO di awal tahun 2017 terpantau neutral, hal ini digambarkan oleh anomali SST nino 3.4 dengan kisaran nilai -0,2°C dan bergerak menuju 0°C…
Peningkatan Hujan Terjadi di Wilayah Indonesia
17 Oct 2016
Evolusi curah hujan selama September menunjukkan peningkatan curah hujan secara signifikan terjadi selama pertengahan hingga akhir September di bagian selatan Indonesia terutama di bagian barat. Kondisi ini terjadi karena fenomena…
Variabilitas Iklim Bulan Agustus 2016: Kemarau Basah Karena Pengaruh Indian Ocean Dipole
09 Sep 2016
Sejak bulan Juni hingga Agustus, Indonesia bagian selatan sebagian besar mengalami kemarau basah. Indikator kemarau basah dibuktikan oleh tiga hal. Pertama, curah hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah tersebut.…
Anomali Basah di Musim Peralihan (Variabilitas Iklim Bulan Mei 2016)
23 May 2016
Anomali Basah di Musim PeralihanVariabilitas Iklim Bulan Mei 2016 RingkasanBulan Maret, April dan Mei, yang merupakan musim peralihan musim hujan ke musim kemarau, biasanya ditandai dengan penurunan curah hujan…


Kontak kami :
PSTA - LAPAN
Jl. Dr. Djunjunan No. 133 Bandung 40173 Telepon (022) 6012602, 6037445 Fax. (022) 6014998, 6037443



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL